RA Kartini mengkritik Wali Allah

RA Kartini mengkritik Wali Allah

R.A.Kartini pada awalnya tergolong muslim "abangan" dan bahkan
berusaha dikristenkan oleh temennya Belanda itu. Dalam suratnya kepada
Abendanon,kartini mengeluh:
 
"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu
apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran,
belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang
tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak
mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan
mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci
sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada
E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]
 
hingga pada suatu ketika ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak
(Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung
pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut
mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari
balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan
Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar Darat, seorang ulama besar dari 
Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. 
 
Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan 
pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Ada banyak 
karamah dari kyai Darat yang sudah mencapai kedudukan wali Allah ini. 
(Insya Allah akan saya ceritakan nanti).
 
Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar
bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog
antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila
Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :
 
"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila
seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan
secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik
bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan
Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan
arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah
menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada
Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para
ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam
bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia
dan sejahtera bagi manusia?"
 
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk
menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan
Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran
(Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari
13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.
Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi
sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia,
sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke
dalam bahasa Jawa.
 
Wa Allahu a'lam bi as-shawab

2 Tanggapan

  1. analisa menarik dan tajam

  2. menarik, sumbernya dari mana??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: