3 Keanehan jilbab

Orang bilang jaman sekarang jaman kewalik (kebalik-balik). Saya mencatat ada tiga hal yang tidak sesuai dengan tujuan disyariatkannya jilbab.

 

PERTAMA, Allah menyatakan dalam Al-Quran, seorang ibu yang telah berhenti haid dan tidak ingin menikah lagi tidak wajib berjilbab. Tapi, saat ini kita justru melihat kebalikannya. Ibu-ibu beserta putrinya memperlihatkan sesuatu yang sebaliknya. Sang ibu yang sudah berusia lanjut menggunakan jilbab yang rapi, sedangkan putrinya berjalan di sampingnya dengan pakaian yang serba ketat dan terbuka. Padahal, jilbab justru diwajibkan untuk sang putri bukan sang ibu, karena sang ibu sudah tidak wajib lagi memakai jilbab.

 

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar)mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S.An-nuur (24):60)

 

KEDUA, Tujuan utama disyariatkannya memakai jilbab dalam Al-Quran adalah untuk menutup dada. Dahulu para perempuan di Arab memakai kudung penutup kepala seperti halnya ibu-ibu kita jaman dahulu. Kemudian turun perintah untuk menutupkan kain kudung ke dadanya agar belahan dadanya tidak terlihat. Selain itu juga agar bentuk dadanya tersamar. Saat ini justru banyak yang bersusah payah memakai jilbab hanya untuk menutupi rambut di kepala tapi malah membiarkan bentuk dada terbuka. Memakai jilbab dengan pakaian yang ketat tidak bisa dikategorikan mensamarkan (menutupi) dada.

 

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”(Q.S.An-nuur (24):31)

 

KETIGA, Perintah memakai jilbab dimaksudkan agar wanita tersebut dapat dikenali bukan hanya secara lahiriah tapi juga ruhiyah. Secara lahiriah, seorang wanita dikenali dengan melihat wajahnya. Oh itu si Anisa, Oo.. itu si Fatimah. Secara ruhiyah, wanita berjilbab dapat dikenali sebagai seorang muslimah yang sedang berusaha memenuhi ketentuan Tuhannya. Tapi, bagaimana kita bisa mengenalinya jika wajahnya juga tertutupi dan hanya menyisakan kedua matanya saja. Lalu, bagaimana kita bisa mengenali apakah dibalik cadar itu seorang wanita atau pria? Bahkan kita pun tidak bisa mengenali apakah dibalik cadar itu seorang muslim atau non muslim. Maka menurut saya memakai cadar justru bertentangan dengan Al-Quran. Kecuali jika perempuan tersebut memakainya di padang pasir dengan maksud untuk menutupi wajahnya dari panasnya terik matahari dan kotornya hembusan angin bukan karena menganggapnya sebagai sunnah Nabi apalagi sebuah kewajiban.

 

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al Ahzab (33) : 59)

 

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S . Al Hujuraat (49) ; 13)

 

Berjilbab tidaklah lantas menunjukkan kualitas akhlak seseorang namun setidaknya ada sebuah niatan dalam dirinya untuk menaati perintah Tuhannya. Semoga dengan niatan itu (meski sekecil apapun) akan membimbingnya kepada ketaatan lainnya. Kitapun tidak boleh menjustifikasi seseorang perempuan yang tidak berjilbab sebagai seseorang yang tidak taat kepada Tuhannya. Mungkin, dia belum mengerti atau sudah mempunyai niat, hanya tinggal menunggu saat yang tepat.

 

Semua orang butuh proses untuk menuju ke arah yang lebih baik. Kita pun bisa seperti ini setelah melewati proses yang panjang dan akan terus berproses ke arah yang lebih baik. Karenanya kita tidak bisa menyuruh seseorang untuk berubah dalam sekejap. Dari pada memvonis lebih baik mendoakan semoga mereka diberi kekuatan hati untuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Yang parah adalah jika dia mengingkari kewajiban tersebut dengan sengaja. Hanya ada satu kata yang tertera dalam Al-Quran untuk mewakili orang-orang seperti ini yaitu “MUNAFIK”.

 

Oh ya ternyata dalam Al-Quran diperbolehkan membuka jilbab dihadapan para pembantu rumah tangga lelaki yang tidak memiliki keinginan terhadap mereka. Mungkin yang dimaksud pembantu atau tukang kebun yang sudah tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: