Realitas Dzikir

Berfikir saat berdzikir atau berdzikir saat berfikir ? Realitas berfikir
seharusnya didasari atas dzikrullah, sedangkan realitas berdzikir adalah
pengesaan Allah . Orang yang berfikir saat berdzikir akan tersesat dalam
ribuan sketsa di kepala dan visual-visual yang muncul justru lebih banyak
menjauhkan dirinya dari tujuan dzikir yang sebenarnya yaitu mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Sedangkan berdzikir saat berfikir adalah proses
penetralan atau meredam frekwensi otak sampai ketitik nol bahwa apaun yang
kita fikirkan harus berakhir pada ridha Allah SWT dan ini sangat tidak
mudah dilaksankan. Ketenangan hati bisa dicapai dengan berbagai  cara jika
kegundahannya  bersifat materi atau duniawi. akan tetapi jika kegelisahan
yang muncul dikarenakan sebuah pencarian jati diri dalam mengenal tuhannya,
maka dzikir adalah jalan keluarnya. Permasalahannya metode seperti apa yang
bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT ? 
  
Bunyi-bunyian adalah salah satu terapi menenangkan hati, ketika kita
mendengar aluanan musik yang mendayu-dayu maka saat itu suasana hati kita 
seperti ikut terseret oleh nada tersebut. Didalam lagu-lagu kebangsaan
hampir semua memakai nada-nada tinggi untuk menggugah semangat juang,
begitu juga dalam keagamaan seperti nyanyian di gereja atau lantunan pujian
di wihara kesemuanya akan memunculkan  nada-nada yang bisa mungubah suasana
hati yang oleh para terapist (ahli terapi) hal ini dijadikan sebagai salah
satu efek terapi. Didalam islam  hal seperti ini pun bisa kita dapati dalam
dzikir atau sholat berjamah, artinya bunyi secara temporer  bisa membawa
sesorang kedalam suasana syahdu, sedih, ceria dan bersemangat. Namun tidak
sedikit yang terperangkap dalam spritualitas bunyi-bunyian seperti ini
dimana kekhusyuan hanya di peroleh ketika lantunan kalimat tauhid secara
berjamah menggelegar atau keindahan bacaan sang imam di masjid atau
tangisan sang ustad di dalam dzikir berjamaah. dan ketika kesemuanya itu
tidak ada maka hatipun  terasa hambar. 
  
Berdzikir juga tidak memerlukan jubah kebesaran, realitas dzikir bisa
menghilangkan eksistensi diri dihadapan Allah, disisi lain ada segelintir
orang yang terperangkap dalam simbol-simbol keagamaan dan merasa lebur
dalam kelompoknya dan berusaha memfanakan diri dihadapan Allah, bagaimana
mungkin dia bisa menyatu sementara dia baru saja mengidentifikasikan
dirinya dari hamba Allah yang lain dengan jubahnya dan berdalih tidak ada
ria didalamnya. Persepsi kita terkadang dibentuk oleh lingkungan,  jika ada
orang yang baru masuk Islam yang berasal dari agama Budha dan memakai
atribut keagamaanya sewaktu sholat , maka syahkah sholatnya ? secara fiqih
syah akan tetapi hal ini  jelas-jelas menimbulkan keresahan orang
disekitarnya karena persepsi mereka terhadap baju yang islami yaitu baju
koko atau gamis padahal secara fitrah Islam tidak memiliki atribut apapun. 
  
Secara bahasa  berdzikir berarti  mengingat atau menghadirkan eksistensi
Allah, dan hal ini semestinya dilakukan kapanpun dan dimanapun, namun
belakangan dzikir talah memasuki sebuah kelembagaan dengan berbagai
atributnya, apakah itu salah ? tidak, namun jika asas kepatutan hanya pada
salah dan benar maka akan terjadi penyempitan makna dan kesadaran tidak
akan pernah mucul secara mandiri sehingga sewaktu individu tersebut lebur
kedalam masyarakat yang bukan berada dalam komunitasnya maka perubahan
ahlak tidak akan muncul secara significan, dan pada masanya kesyahduan
dzikir seperti ini akan mengalami titik jenuh. Namun
pengandaian-pengandaian tadi akan gugur jika kalimat tauhid telah menghujam
di qolbu dengan atau tanpa komunitas seperti harumnya nama Uwais Al Qarni
walau tidak pernah bertemu nabi. 

Satu Tanggapan

  1. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Berdzikir Membuat Hati Tetram, Benarkah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: