Saat Pikun Melanda

LUPA dengan frekuensi tidak terhitung adalah pertanda menurunnya daya ingat. Pikun atau demensia, terutama yang tidak bisa diperbaiki ternyata bisa diobati. Namun lebih dari itu, mencegahnya adalah langkah yang terbaik

Hitunglah dalam sehari Anda mengalami lupa sampai berapa kali. Lalu, perhatikan usia Anda. Bila Anda masih muda, kira-kira usia 40 tahun ke bawah, masih dimaklumi kalau lupa satu atau dua kali. Mungkin karena Anda kurang konsentrasi, atau ada banyak masalah sehingga banyak hal dilupakan.

Tetapi, kalau lupa terjadi berkali-kali, itu tandanya terjadi penurunan daya ingat. Bila tanda-tanda pikun dialami, mesti hati-hati. Sebab bila dibiarkan, di usia yang lebih tua lagi nantinya akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, baik buat diri sendiri maupun orang lain.

Pusatnya di Otak
Pikun atau bahasa medisnya demensia adalah penyakit yang pusat persoalannya ada di otak kita. Menurut Dr. Sukono Djojoatmodjo Sp.S, pikun disebabkan oleh adanya kerusakan pada sel-sel otak. Akibatnya terjadi penurunan daya ingat. Kondisi ini bisa berlangsung cepat atau lambat, tergantung kerusakannya.

Penurunan daya ingat berlangsung mulai dari keadaan lupa sekali-sekali, misalnya lupa dengan kaca mata atau mengingat suatu tempat. Keadaan ini disebut very mild cognitive decline.

Seiring bertambahnya usia, terutama di usia 50-an, keadaan ini bisa menjadi MCI (mild cognitif impairment). Ini terjadi akibat mengisutnya otak yang tadinya 1,3 kg menjadi 1,2 kg karena kadar airnya menyusut.

Bila sudah mencapai tahap ini, sebaiknya Anda musti hati-hati. Bisa jadi keadaan akan semakin berkembang ke situasi yang disebut Moderate cognitive decline/impairment. Ini yang disebut Anda sudah mulai pikun.

Dr. Sukono menyebut, untuk menghalangi kepikunan ini Anda musti menjalankan pola hidup sehat. “Berhentilah merokok, makanlah dengan gizi seimbang, hindari minuman beralkohol, hindari stres, rutin berolahraga dan teraturlah untuk melakukan rileksasi,” jelas spesialis saraf dari RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta.

Namun bila sudah terlanjur pikun, segeralah anggota keluarga berupaya agar penderita menghilangkan kebiasaan yang tidak sehat. Biarkan penderita menggiatkan diri dengan aktivitas membaca, menulis, mengisi teka-teki silang, terus aktif dalam lingkungan sosial, dan mengasup makanan sehat. Usahakan jangan sampai terkena penyakit yang mengganggu fungsi otak semisal stroke, diabetes, dan pengapuran pembuluh darah.

Secara klinis kerusakan sel otak pada penderita pikun atau demensia ditunjukkan dengan gejala; buru-buru dalam mengambil keputusan sehingga tampak bodoh, perilaku yang berbeda seperti sebelumnya dan bisa jadi agak kekanak-kanakan serta terlihat plin plan. Penderita juga tampak kesulitan menangkap ide baru atau adaptasi dengan situasi baru.

Kecepatan otak dalam memproses informasi semakin lambat. Pengiriman informasi atau instruksi sering tidak tepat. Akibatnya kita sering frustasi bila berhadapan dengan penderita. Pola berpikir yang mundur dan kaku ini tidak jarang membuat kita menganggap mereka  sebagai “si tua yang bebal”.

Kerusakan memori ini dikenal dan sering dianggap sebagai satu-satunya gejala demensia. Padahal masih ada lagi gejala yang lebih parah. Misalnya penderita kadang membicarakan orang-orang yang sudah meninggal seolah masih hidup. Payahnya lagi, emosi penderita menjadi labil atau penderita menjadi pribadi yang lain dari dirinya. Harus hati-hati menghadapi orang semacam ini.

Dua Macam Demensia
Pada dasarnya, ada dua macam demensia atau pikun. Demensia yang bisa diperbaiki atau reversible dan demensia yang sulit diobati atau irreversible. Demensia yang bisa diperbaiki biasanya penyebabnya antara lain; terlalu banyak konsumsi alcohol, adanya infeksi akibat virus, bakteri dan jamur di otak, kejadian perdarahan di bawah selaput keras otak (subdural hematoma), penimbunan cairan dalam ventrikel otak (normal pressure hydrocephalus), dan keadaan kurangnya aktivitas kelenjar gondok (hypothyroidsm).

Untuk demensia yang tidak bisa diperbaiki, biasanya terjadi akibat penyakit yang disebut Alzheimer, demensia yang ditandai dengan rusaknya beberapa organ termasuk otak (multi-infark dementia) semisal stroke, dan lewy body dementia.

Bila gejala menurunnya daya ingat ini menimpa Anda sendiri, segeralah membicarakan hal ini dengan dokter syaraf. Dokter akan memberikan tes untuk mencari tahu apakah Anda terkena demensia atau tidak. Sedini mungkin Anda menyatakan masalah ini ke dokter, sesegera mungkin dokter akan membantu Anda.

Anda bisa melakukan latihan yang disebut senam otak setiap saat. Gerakan intinya adalah menyilangkan tangan dan kaki secara bergantian. Langkah ini dapat membantu menyeimbangkan kemampuan otak kiri maupun kanan.

Dan bila yang mengalami tanda-tanda demensia ini adalah salah satu anggota keluarga atau teman Anda, cobalah untuk membawanya ke dokter. Anda bisa menceritakan gejala yang ada ke dokter terlebih dahulu sebelum saudara Anda bertemu si dokter. Setelah ketemu, barulah ceritakan segala hal secara detail termasuk cara bertindak dan perilakunya.

Biasanya dokter akan melakukan beberapa langkah. Antara lain mencari tahu riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikoneurologis, tes laboratorium, cek EEG (elektro ensepalogram), dan CT-Scan atau MRI.

Pemeriksaan fisik biasanya meliputi penilaian domain kognitif, misalnya dengan meminta pasien menyebutkan nama organ tubuh atau objek yang ditunjuk, meminta pasien memeragakan suatau gerakan misalnya cara memukul dengan palu atau cara menyikat gigi, meminta pasien untuk menebak barang semisal koin di tangan dengan mata tertutup, dan beberapa tes lain misalnya pasien diminta memungut kertas yang ditaruh di lantai dan melipatnya menjadi setengahnya.

Tugas terakhir ini bisa jadi sulit buat penderita yang sudah mengalami penurunan kemampuan dalam merencanakan sesuatu, berinisiatif, membuat urutan, dan berperilaku aneh.

Untuk jenis demensia yang bisa diperbaiki, dokter akan memberi pengobatan sesuai dengan penyebabnya. Sementara untuk penderita yang mengalami demensia yang sulit sembuh, dokter akan memberi obat golongan Donepezil, Galantamine, dan Rivastigmine.

Menurut penelitian, perawatan dengan cholinesterase inhibitor ini menyebabkan penurunan gejala yang cukup bagus, stabilnya kemampuan kognitif untuk sementara waktu, dan berkurangnya gejala menurunnya kemampuan kognitif pada beberapa pasien Alzheimer.

Sekitar 20 sampai 35 persen pasien yang mendapat perawatan dengan obat ini didapati menunjukkan kemajuan nilai tujuh poin dari tes neurofisiologis yang dijalaninya. Sebelum perawatan dengan obat ini dijalankan, biasanya dokter akan menjelaskan manfaat obat jenis cholinesterase inhibitor ini kepada pasien dan keluarganya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: