Gunung Slamet (3432 Mdpl)

 

Gunung Slamet terletak diantara Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Brebes. pada posisi geografis 7°14,30′ LS dan 109°12,30′ BT, dengan ketinggian 3432m dpl, membuatnya merupakan gunung berapi yang tertinggi di daerah Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan disebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas. Hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air, jadi sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Pintu gerbang pendakian adalah dari desa Blambangan.

Gunung Slamet dapat dicapai dari beberapa pintu masuk yaitu:

Bambangan

Batu Raden

Kaliwadas

Randudongka

 

Dari beberapa rute pendakian yang ada, Bambangan adalah rute yang paling banyak ditempuh oleh para pendaki, disamping karena jalur pendakian yang cukup aman, panorama yang ada sangat lengkap, dari pemandangan alam yang membentang ke timur sampai daerah Banjarnegara, juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.

Perjalanan dimulai dari kota Purwokerto. Dari sini naik mini bus (Rp.8.000 per orang) yang menuju Bobotsari kemudian turun di daerah yang dinamakan pertigaan serayu (sebelah utara bobotsari), perjalanan sekitar 45 menit tiba di pertigaan serayu dan melanjutkan perjalanan menuju desa Bambangan dengan menggunakan kendaraan pick-up (Rp.10.000 per orang). Hanya ada satu angkutan tersebut yang tersedia. Sedangkan transportasi untuk kembali ke Purwokerto bisa mencarter mobil angkutan sayur kepunyaan kepala desa Rp.15.000/orang dari Desa Bambangan sapai ke terminal Bus Purwokerto dengan catatan lebih dari 10 orang. Bambangan merupakan desa terakhir dan merupakan pintu gerbang pendakian menuju puncak Gunung Slamet . Untuk mencapai puncak slamet dibutuhkan waktu antara lebih kurang 8 jam pada keadaan normal. Hutan-hutan yang asri akan hilang ketika sampai di tempat yang dinamakan Pos Sanghyang Rangkah atau disebut juga Pos Mata Air, dan berganti dengan semak-semak dan tumbuhan sub-alpine lainnya.

Begitu melewati daerah semak – semak kita akan sampai di Pelawangan (lawang = pintu) atau atau Pos IX yang merupakan pintu menuju ke puncak Slamet. Perjalanan akan semakin menarik sekaligus juga berbahaya ketika kita melalui pelawangan ini. Disamping hanya pasir dan batu berbeda dengan medan lereng pasir di gunung Mahameru yang halus di gunung ini pasirnya sedikit kasar dan tajam.

Setelah melewati daerah Pelawangan maka akan sampai di dataran puncak yang berbukit dengan beberapa hamparan kawah yang luas. Pada puncak Slamet terdapat sebuah tiang penunjuk ketinggian. Pemandangan gunung Sumbing dan gunung lainnya di daerah Jawa Tengah jelas terlihat.

Rute Pendakian

Desa Bambangan 1478m dpl
07° 13′ 34,7″ LS 103° 15′ 57,7″ BT
Desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian bertani ini selain mempunyai pondok pemuda yang merupakan juga tempat singgah para pendaki juga rumah kepala dusun dan rumah penduduk lainnya bisa dijadikan tempat singgah dan bermalam. Jarak dari desa Bambangan ke Pos I Pondok Gembirung sekitar 1,5 km dengan jarak tempuh normal lebih kurang 1 jam.

 

Pos I (Pondok Gembirung) 1993m dpl
07° 13′ 38,0″ LS 103° 14′ 48,0″ BT
Pos I atau Pos Pondok Gembirung ini mempunyai areal yang cukup lebar untuk mendirikan 4-5 tenda dan terletak persis di sebelah kiri jalan setapak sewaktu akan naik. Tidak ada sumber mata air di pos ini. Sebelum mencapai pos ini kita akan melewati perladangan penduduk disebelah kiri jalan setapak terdapat sungai yang kering dimusim kemarau. Kemudian kita akan memasuki pintu hutan dan tak lama baru sampai di pos ini.

Pos II (Pondok Walang) 2271m dpl
07° 13′ 45,8″ LS 109° 14′ 28,1″ BT
Pos II atau disebut juga Pos Pondok Walang ini cukup luas dan berjarak lebih kurang 1km dengan jarak tempuh lebih kurang 1,5 jam. Tanjakan yang cukup menguras tenaga dari Pos I membuat perjalanan sedikit akan lama jika dibandingkan dengan jaraknya. Seperti halnya dengan Pos I di Pos ini tidak terdapat sumber air.

 

Pos III (Pondok Cemara) 2497m dpl
07° 13′ 55,2″ LS 109° 14′ 10,6″ BT
Pos III ini merupakan pos yang terluas, di pos ini bisa mendirikan 10 tenda. Pos yang berjarak sekitar 1,5km dari pos sebelumnya ini juga tidak tersedia sumber mata air. Waktu tempuh dari pos II dengan kecepatan normal sekitar 1.5 jam

 

 

Pos IV (Pondok Samarantu) 2697m dpl
07° 14′ 01,0″ LS 109° 14′ 00,3″ BT
Pos Samarantu ini berada persis di samping kanan jalan setapak. pos ini berjarak sekitar 1,5km dari pos sebelumnya dengan waktu tempuh lebih kurang 1,5 hingga 2 jam ada sedikit kerancuan pada pos ini yakni sebelum samapi di pos ini kita akan menjumpai pos yang bernama Samarantu juga.
Pos tersebut tidak lebih merupakan pos bayangan yang telah disalah namakan. Pos Samarantu yang benar adalah yang ini.

Pos V (Samyang Rangkah) 2806m dpl
07° 14′ 07,9″ LS 109° 13′ 51,5″ BT
Pos ini juga dikenal dengan nama Pos Mata Air, karena hanya ditrempat ini lah kita bisa menemukan air. Akan tetapi tidak pada musim kemarau. Membawa persedian air yang cukup adalah wajib jika anda mendaki gunung Slamet. Pos yang berjarak sekitar 1,5 – 2km dan dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam dari pos sebelumnya ini. mempunyai sebuah bangunan pondok. Mulai dari pos ini keatas sudah terbuka medannya.

Pos VI (Samyang Jampang) 2916m dpl
07° 14′ 09,6″ LS 109° 13′ 43,0″ BT
Pos VI ini tidak begitu luas dan berjarak sekitar 1km dengan waktu tempuh lebih kurang 1 jam dari pos V. dari tidak ada yang terlalu istimewa pada pos ini, karena hanya merupakan pos persinggahan sementara. Pada lokasi pos ini bisa mendirikan 2-3 tenda.

 

Pos VII (Samyang Kotebon) 3050m dpl
07° 14′ 13,6″ LS 109° 13′ 34,0″ BT
Pos ini sangat berdekatan sekali dengan pos VII dan merupakan pos yang memiliki pemandangan yang lepas ke arah timur.
Disini ada sebuah shelter berukuran 3x6m dan terbuat dari seng.

 

 

Pos VIII (Samyang Kendit) 3050m dpl
07° 14′ 13,5″ LS 109° 13′ 33,9″ BT
Pos ini terletak diatas pos VII, entah kenapa kedua pos ii jadi berdempetan tidak ada data mengenai itu. Pos Samyang Kendit ini cukup lebar dan berada persis di pinggir jalan, JIka mendirikan tenda di pos ini menghadap ke Timur, maka pagi hari bisa menikmati sunrise dari dalam tenda.

Pos IX (Pelawangan) 3198m dpl
07° 14′ 17,1″ LS 109° 13′ 25,9″ BT
Pos Pelawangan ini adalah merupakan pos yang terakhir, pos ini berada didaerah perbatasan daerah berbatuan dan pepohonan. Jarak pos ini dari pos VIII adalah sekitar 0,5 km dengan jarak tempuh kurang lebih 1 – 1,5 jam.

 

 

Puncak 3432 m dpl
07° 14′ 19,0″ LS 109° 13′ 11,9″ BT
Setelah melewati pos IX maka medan pendakian yang akan dihadapi menuju puncak adalah daerah terbuka dan berpasir serta berbatu. Berbeda dengan daerah berpasir di Mahameru atau Rinjani. daerah berpasir di Slamet ini batubatunya sedikit tajam. Saat mencapai gigiran puncak tiang trianggulasinya berada disebelah kanan. Dari sini kita bisa melihat pemandangan lepas ke segala arah. Kawah Gunung Slamet agak jauh letaknya dari puncak. Untuk kesana kita harus menuruni puncak ke arah barat, tapi kawahnya terlihat jelas dari puncak.

Perijinan

Perijinan bisa diurus di rumah kepala desa Bambangan, rumah kepala desa ini juga biasanya dijadikan basecamp oleh para pendaki. Disini para pendaki mendaftar untuk mendaki dengan membayar uang retribusi Rp.3.500,- per orang dan juga membayar karcis kas Karang Taruna sebanyak Rp. 500,- per orang. Para pendaki tidak dikenakan biaya untuk menginap di rumah kepala desa ini.

 

 

 

Update Jalur Bambangan
by maman ( maman.sukarman@pln.co.id )

Jalur Pendakian dari Guci

Guci adalah nama desa sekaligus tempat wisata di kaki Gunung Selamet arah Barat Laut. Komplek wisata Guci, ini adalah merupakan komplek wisata alam mata air panas dan air terjun, yang cukup lengkap, dengan hotel berbagai kelas, dan juga villa-villa disewakan. Juga terdapat camping ground sederhana. Hotel yang terbaik disini adalah Duta Wisata,  terdapat kolam renang air panas,. Jika anda ingin berendam gratis, silakan mencebur di sungai yang mengalir dengan air yang jernih dan deras. Berbeda dengan Ciater, yang semrawut dan sangat mahal, suasana disini relatif tenang, dan harga-harga tidak terlalu mahal.

AKSES TRANSPORTASI

Dari Jakarta dengan menggunakan bis Jurusan Jakarta-Tegal-Slawi-Purwokerto (AC Rp 43,000).  Kemudian turun di pertigaan Yomani/Lebaksiu yang berada pada ketiggian 125m dpl, kira-kira setengah jam dari tegal ke arah Purwokerto melewati Slawi. Pertigaan ini ditandai dengan petunjuk arah Kawasan wisata GUCI dan jembatan.

Di sini kita bisa berbelanja bahan makanan, jika perlu. Terdapat juga wartel, restoran sate/ gulai  kambing muda yang memang khas di daerah ini. Terdapat Masjid besar, Masjid Baetussalam, yang besar dan bersih dengan air yan melimpah.  Depan masjid ini menjadi tempat nongkrong bus Dewi Sri jurusan Jakarta, yang berangkat pagi dari lokasi ini.

Dari pertigaan Yomani/Lebaksiu ini kita ganti bis kecil Jurusan Tegal-Slawi-Bumijawa, turun di pertigaan Tuwel, ongkosnya (Rp 7000). Bis ini beroperasi dai jam 6 pagi sampai jam 5 sore.  Selain waktu tersebut, anda harus menggunakan ojek ke Guci (Rp 30.000).  Atau anda bisa numpang menginap di masjid Baetussalam, sambil menunggu besok pagi jam 6.

Dari Tuwel kita berganti dengan mobil pickup ke tempat wisata Guci (Rp 6000).

Tips
Sebaiknya gunakan bis Executive (bangku 2-2)Jakarta-Purwokerto , Sinar Jaya, Dewi Sri, yang berangkat dari terminal Rawamangun. Pengalaman kami naik bis siang AC (bangku2-3) Tri Kusuma dari Pulogadung, kondisi bis , keamanan dan kenyamanan sangat jelek.
Waktu tempuh Jakarta – Pertigaan Yomani 8 jam.

PERIJINAN DAN PORTER

Pendakian masal diselenggarakan rutin oleh Pemda Tegal, setiap 17 Agustus. Rekor tertinggi hanya 200 orang (bandingkan dengan Gede).

Di desa Guci, bisa dicari penunjuk jalan/ porter. Pemuda di desa ini mempunyai klub pendaki bernama “Eidelwais Club”. Mereka bisa dimintai tolong mengantarkan dan membawa beban. Tarifnya , belum ada harga resmi untuk porter saat ini biasanya 75 ribu/orang, untuk 2 hari-1 malam. Bahan makanan buat dia, kita yang menyediakan. Dan uang tambahan transport 15 ribu/orang, karena kita turun di Bambangan.

Perijinan bisa diurus ke ‘juru kunci’ disini. Dan bisa diurus oleh porter langsung.

Di desa ini/ tempat wisatanya,  anda bisa membeli nasi bungkus untuk makan siang nanti, jika anda malas memasak di perjalanan.

Tips
Untuk mencari pemandu/ porter, hubungi Mas Narto, tinggal di dekat SDN 1 Guci.

RUTE PENDAKIAN

Pendakian dimulai dari pintu gerbang pendakian yang berada pada ketinggian 1120m dpl. Pintu gerbang pendakian yang berupa gapura ini , adalah juga merupakan pintu gerbang ke air terjun. Letak air terjun ini ada di sebelah sebuah jembatan. Tiket ke air terjun adalah 2000/ orang. Air sungai ini bisa dipakai untuk memasak. Berikut adalah tahapan pendakian mulai dari pintu gerbang hingga puncak.

Gerbang 1120m dpl – Pos Pinus (Pos I) 1185m dpl
Dari gerbang jalur pendakian relatif landai, melewati pinggir hutan pinus, dan setelah mengikuti jalan setapak kemudian akan bertemu dengan jalan berbatu/ bekas jalan aspal yang sudah rusak milik perkebunan pinus. Pos I berada sedikit masuk ke dalam hutan Pinus. Didaerah ini banyak sekali terdapat bekas bulu burung yang merupakan buangan dari pada pemburu burung Katik..Waktu tempuh dari Gerbang hingga ke Pos I ini kuran glebih 1 jam
 

 

Pos I  – Pos II (1850m dpl)
Setelah melewati Pos I keadaan jalan setapak mulai menanjak dan mulai banyak terdapat pohon yang berlumut. Sedangkan waktu tempuhnya 1 jam 50 menit.

 


 

Pos II – Pos Pondok Pasang (Pos III) 2035m dpl
Kondisi jalan seteapaknya relatif landai dan waktu tempuh dari Pos II ke Pos III kurang lebih 48 menit.

 

 


Pos III – Pos Pondok Cemara (Pos IV) 2480m dpl
Jalur dari pos III menuju Pos IV ini lebih berat dari pad jalur lainnya (dari pos I hingga Pos V). Dijalur ini, banyak pohon perdu setinggi manusia (semacam arbei). Jika memulai pendakian dipagi hari, maka istirahat makan siang dapat dilakukan disini. Dan juga di daerah Pos IV ini ramai dihiasi oleh suara burung.
Waktu tempuh dari Pos III ke Pos IV adalah kurang lebih sekitar 2 jam.

 

Pos IV – Pos Pondok Kematus (Pos V) 2740m dpl
Jalur pendakian mulai banyak ditemui pohon tumbang dan sebelum mencapai Pos V, akan ada sebuah pos yang dikenal dengan sebutan Pos Edelweiss yang berada pada ketinggian 2570m dpl, dan waktu tempuh hingga Pondok Edelweiss ini adalah kurang lebih sekitar 1 jam 26 menit. Selepas dari pondok edelweiss keadaan jalan setapak mulai banyak debu vukanisnya. Dari Pondok edelweiss hingga ke Pos V akan memakan waktu kurang lebih 50 menit.

 

Pos V – Bibir kawah sebelah barat laut (3205m dpl)
Mendekati bibir kawah, haruslah berhati-hati karena jalannya melewati tanah berpasir halus dan berasap belerang. Terkadang tanah tersebut terasa hangat. Resiko keracunan belerang/ H2S bisa saja terjadi. Jadi ada baiknya menyiapkan masker, dan berjalan cepat dan tegak, untuk mengurangi resiko.
Karena H2S lebih berat dari udara/ berada di dekat tanah. Waktu tempuh dari Pos V hingga bibir kawah ini adalah sekitar 2 jam

 

Bibir Kawah Barat Laut – Puncak Barat/Tower Barat (3220m dpl)
Jalan setapaknya mengelilingi kawah, diperlukan konsentari ektra di jalur ini. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam.

 

 

Puncak Barat/Tower Barat – Puncak Timur/Puncak sejati 3428m dpl
Jalan setapaknya turun kearah kawah pasir dan kemudian naik kembali menuju puncak sejatinya. Waktu tempuhnya sekitar kurang lebih satu jam.
 

 

 

Pada jalur pendakian Guci ini tidak terdapat sumber air di setiap posnya, dan pos yang ada bangunan shelternya hanya di Pondok Edelweiss
 
 
Kontibutor jalur Guci by Amir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: