KRITERIA MANUSIA

Kita datang ke PP Suryalaya untuk belajar mengkaji diri, kita diundang oleh Pangersa Abah. Jangan merasa Abah membutuhkan, justru sebaliknya kita yang membutuhkan Beliau. Maka tinggalkanlah semua atribut untuk belajar mengaku dosa dan bertaubat, dimana kalimah taubatnya sudah diberikan oleh Pangersa Abah yaitu : “Laa Ilaaha Illallah”.
Ada seorang mahasiswa bertanya : “Mengapa kita semua dan puluhan ribu orang lainnya dengan bercucuran keringat di tengah lapangan serta menghabiskan dana besar telah berdo’a untuk negara ini, tetapi keadaan Negara kita begini saja ?”. Jawabannya : Karena do’anya terlalu panjang, sedangkan tobatnya sedikit bahkan cenderung tidak tobat.

Seharusnya yang panjang itu tobatnya bukan do’anya. Bukankah kita mempunyai contoh (uswah) para Nabi dan Rosul ? Seperti dicontohkan oleh Bapak Nenek Moyang kita (Nabi Adam dan Siti Hawa) diakibatkan kesalahan sedikit saja menjadikan mereka terusir dari surga serta dipisahkan keduanya didunia. Lalu Nabi Adam terus bersujud dan bertobat. : “Ya Tuhan kami ! kami telah berbuat dholim kepada diri kami, jikalau Engkau tidak mengampuni serta tidak merahmati sudah tentu kami termasuk orang-orang yang merugi”.

Do’anya tidak panjang, tetapi Beliau tobat sampai 200 tahun untuk satu kesalahan saja. Kita malah sebaliknya setiap hari melakukan dosa dan maksiat, tetapi tidak pernah bertobat.
Disinilah, perlunya kita bergabung, baik badan ataupun hatinya yang disatukan oleh Guru Mursyid dalam nuansa dan naungan “Laa Ilaaha Illallah”.
Dalam memperingati Maulid Nabi, manusia terbagi kepada beberapa kelompok :
Memperingati dan ingat
Memperingati tetapi tidak ingat
Tidak memperingati tetapi ingat
Tidak memperingati dan juga tidak ingat

Seorang murid yang baik tidak mungkin ingat sebelum memperingati. Kalau misalnya Rasul SAW masih hidup berapa usianya ? pasti sekitar 1432 tahun, karena Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul awal 521 M.
Tetapi mengapa oleh kita tetap diperingati sampai sekarang bahkan sampai akhir jaman ? Inilah gambaran orang yang hidup dan hidup.

Manusia yang hadir itu bermacam-macam :
Manusia hidup dan hidup

Seperi Rasululloh SAW yang terus diperingati dan kita mencintai dan Mahabah kepadanya. Termasuk foto copynya yang ada ditengah-tengah kita sekarang (Pangersa Abah). Insya Allah kita tidak salah berguru kepadanya, dan harus yakin jangan ragu-ragu, kalau masih ragu-ragu jangan datang kesini. Jangankan tarekatnya, Islamnya pun tinggalkan, seperti kita mengakui Islam tetapi tidak berzakat, maka lebih baik keluar dari Islam dikarenakan ragu terhadap anugerah rizki dari Allah. Padahal kita dituntut melaksanakan Islam secara totalitas.
Manusia jenis ini badannya sehat dan kuat, serta suaranya lantang. Setiap yang hidup memerlukan oksigen, berapa kali kita menghirup oksigen ? dan berapa harganya kalau diuangkan ? udara milik Allah, paru-paru buatan Allah, hidung dan nafas kita buatan Allah, tetapi mengapa ketika bernafas malah lupa kepada Allah ?
Lihat rambut ! mari Tafakuri bahwa dengan rambut ini berapa juta manusia mengandalkan hidupnya ? ada pabrik shampo, tukang cukur, salon dan lainnya. Pantas Allah menyindir :
“Apakah kamu tidak melihat tanda-tanda (kekuasaan Allah dalam dirimu)”.
Manusia jenis ini selalu hidup hatinya, yaitu hatinya selalu dzikir kepada Allah. Itulah hebatnya PP Suryalaya, mengapa? Sudah berguru kesana kemari untuk mencari jawaban pertanyaan berikut :
Kalau mau makan baca apa? Jawabnya bismillah
Kalau setelah makan ? jawabnya alhamdulillah
Nah kalau sedang makan baca apa ?

Tidak perlu dijawab, suruh saja ke PP Suryalaya pasti ada jawabannya, karena orang yang sudah belajar di PP Suryalaya sudah mempunyai bacaannya.
Perlu diingat oleh seluruh ikhwan PP Suryalaya bahwa ternyata tanggapan mereka (masyarakat muslim) terhadap Pangersa Abah dan PP Suryalaya ini sering dikotori oleh Ikhwan sendiri yang tidak mampu menjawab suatu masalah tetapi berani menjawab. Akhirnya bukan menyelesaikan masalah sebaliknya membuat masalah yang lain. Terutama para mubaligh yang sering berbicara, minimal harus memperbaiki bacaannya agar lebih baik. Ini demi menjaga kehormatan guru. Tentu menjaga kehormatan guru itu bukan dengan cara mengagung-agungkan guru, tetapi justru dengan cara memperlihatkan contoh dan kelakuan yang baik.
Jangan keluar pertanyaan : “yang penting hatinya” atau “Qurban kita adalah menyembelih nafsu, tidak perlu ada domba”, yang pada ujungnya menyepelekan syariat. Padahal Pangersa Abah telah memberikan contoh untuk melaksanakan syariat secara baik dan benar.
Sebagaimana dikatakan Imam Ghozali : “Syariat bagaikan perahu dan tarekat bagaikan laut. Perahu tidak akan berjalan kalau tidak di laut. Supaya terlihat bagus atau tidaknya itu perahu masukkan ke laut, dan apabila ditemukan kebocoran cepat diperbaiki tidak perlu dibuang perahunya”.
Begitu pula kita memasuki dunia tarekat itu bukan untuk meninggalkan syariat, tetapi untuk menemukan hal-hal yang masih jelek untuk diperbaiki. Maka seseorang sudah belajar tarekat akan semakin apik (teliti dan rapih) dalam ibadahnya. Sebagai contoh dalam sholat, tidak hanya bersih dari najis tetapi ditambah bersih hatinya, dan kalau tadinya hanya menghadap kiblat syariat, lalu diperdalam lagi.
Ini perlu dijaga oleh semua ikhwan, jangan sampai menjawab hal yang tidak dikuasai, seharusnya dijawab segala sesuatu itu dengan amal, karena Guru kita juga tidak banyak bicara justru yang banyak amalnya.
Demikian metode mendidik dalam Islam. Tidak seperti kalau ada anak bertanya : “Pak bagaimana sholat subuh itu ?”, dijawab oleh Bapaknya sampai 2 jam penerangannya, ketika datang waktu subuh, Bapaknya malah tidur. Seharusnya begitu waktu subuh (pukul 04.30) bangunkan anak untuk sholat subuh bersama. Setelah selesai baru dikatakan kepada anak itu :”bukankah kamu bertanya bagaimana sholat subuh ? itulah tadi yang dikatakan sholat subuh”.
Ada pertanyaan yang muncul “mengapa orang yang sudah ditalqin tetapi tetap saja kelakuannya jelek?” jawabnya : sebenarnya Pangersa Abah itu hanya memberikan alat, adapun mau digunakan atau tidak terserah kita. Ibarat kalau diberi peralatan rumah silahkan ingin membuat kandang ayam, rumah sederhana, RSS atau real estate. Apa alat yang diberikan Pangersa kepada kita ? yaitu kalimah Laa Ilaaha Illallah. Sehingga ada orang susah diberi Laa Ilaaha Illallah, ingin maju dagang diberi Laa Ilaaha Illallah , disakiti suami atau tetangga diberi Laa Ilaaha Illallah itulah senjata pamungkasnya.
Dulu kita hanya tahu bahwa talqin itu bagi orang yang telah mati. Memang tidak salah, akan tetapi harus ditambah bahwa talqin itu justru perlu bagi orang yang mau mati (masih hidup) bukan lagi orang yang sedang sekarat.
Sekarat arti asalnya tidak ingat (weureu) atau teler. Maka orang yang sedang sekarat itu berarti orang yang sedang tidak ingat (teler). Ibarat penjaga gawang tidak berpengalaman berhadapan dengan penendang gol nasional pasti gawangnya kebobolan. Ini sama dengan orang yang biasa melakukan dosa setiap hari dan tidak tobat ketika mau mati dibisikan lafadz Laa Ilaaha Illallah apakah bisa masuk atau tidak ? Maka kita ke Pondok Pesantren Suryalaya setiap waktu itu harus makin mendalam bukan sebaliknya makin dangkal.
Manusia hidup tetapi mati

Manusia model ini badannya hidup, kuat dan sehat, suaranya tidak pernah habis dan pergi kesana kemari tetapi hatinya mati dikarenakan tidak berdzikir kepada Allah. Orang ini dikategorikan sebagai binatang. Bahkan lebih sesat dari binatang. Mengapa? Karena mereka mempunyai hati tidak dipakai ingat, mempunyai mata tidak dipakai melihat dan mereka mempunyai telinga tidak dipakai untuk mendengar kepada hal-hal baik yang diperintahkan Allah.
Manusia yang mati tetapi hidup

Secara fisik sudah tua dimakan usia, tetapi hatinya tetap hidup dan selalu berdzikir kepada Allah
Manusia mati dan mati

Sudah secara fisik tidak kuat digerogoti usia, ditambah hatinya mati tidak pernah berdzikir kepada Allah SWT.

Oleh : KH. Drs. Jujun Junaedi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: