Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah Dan Pewarisnya

Setiap Bulan Robiul Awwal memperingatikelahiran Nabi Muhammad SAW dan bulanini (Rabiul-Tsani) memperingati wafatnya Sulthonul Auliya Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani. Mengapa mereka diperingati ? dikarenakan mereka banyak jasanya. Seperti dibulan Rabiul Awwal diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tidak lain dikarenakan jasa Beliau banyak sekali.adanya kita serta alam yang ada disekitar ini berkat jasa Nabi Muhammad SAW, sampai Imam Busyairi memuji Beliau dalam Kasidah Burdah : “Bagaimana mungkin Beliau junjunan mengharapkan dunia, kalaulah tidak ada Beliau pasti duniapun tidak akan pernah ada”.Itulah inti Aqidah Ahlus-sunnah wal jamaah yang sebenarnya. Akan tetapi di dunia ini ada kelompok yang sengaja menginginkan hilangnya Aqidah diatas, dengan alasan tidak masuk akal (irasionil). Kita menghormati semangat mereka yang telah berpikir agar Islam tidak dikotori oelh pemikiran keliru. Tetapi sayangnya mereka memandang keliru sesuatu yang tidak keliru, akibat pemikiran mereka yang keliru.
Ibarat kita naik mobil menuju Jogya, sopir mengetahui jalan dan kita tidak, lalu kita katakan kepada sopir yang sedang menyetir : “salah jalannya, seharusnya kekiri!”, Sopir bertanya : “Pernahkah Bapak ke Jogya ?”. Kita menjawab Belum”. Tidak tahu malah sok tahu, ini menyesatkan.

Di dunia Islam sekarang ini banyak orang seperti di atas, karena penampilannya meyakinkan, dengan memakai dalil Al-Quran dan Hadits, suara dan lafalnya bagus, maka orang awam pun mengangguk-angguk.
Bagaimana caranya agar Aqidah di atas masuk otak ? Diperlukan proses, marilah ikuti proses diri kita : Pak Zezen sekarang 48 tahun yang 2 tahun lagi menjadi 50 tahun. Tadinya seorang pemuda, dan sebelum menjadi pemuda Pak Zezen itu adalah anak-anak. Sebelum anak-anak adalah bayi, dan sebelum bayi tadinya janin, dan sebelum janin adalah segumpah daging dan sebelumnya lagi adalah setetes air mani.

Air mani itu berasal dari saripati makanan yang tadinya berasal dari tanah.Melihat proses itu berarti Pak Zezen masih bersaudara dengan Coet, masih sepupu dengan genteng dan batako. Pantas Imam Ali Krw berkata : “Mengapa masih ada kaum yang takabur di muka bumi, padahal awalnya hanya setetes mani menjijikkan dan akhirnya menjadi bangkai bau busuk”.
Enak saja kita berjalan di atas tanah, makan minum pun dari tanah. Seakan-akan kita yang berkuasa terhadapnya dan memerintah denganseenaknya.
Ingatlah ! disaat kekuasaan itu dicabut (maut tiba), berbalik tanah yang akan mengamcam kita.
Kalau kita beribadah dan berdzikir, tanahpun berkata : “Ya Allah ! Kami bersyukur ternyata hamba-Mua yang menginjak punggungku serta memakan makanan dariku itu menghambakan dirinya kepada-Mu”.
Manakala seseorang itu berbuat dosa dan durhaka kepada Allah, sang tanah berkata :”Ya Allah ! Kami sangat benci, ternyata hamba-Mu yang menginjak punggungku dan mengambil manfaat makanan dariku itu tidak mau menghambakan diri kepada-Mu”. Maka disaat memasuki liang kubur tanahpun menjawab kepada orang-orang sholeh : “Marhaban bika Ya Habibi (Selamat datang wahai kekasihku!)”, bagaikan sang ibu memeluk anaknya yang sudah lama tidak bertemu.
Sebaliknya kepada orang durhaka, mengatakan :”Inilah yang ditunggu-tunggu, kurang ajar ! Kau menginjak punggungku serta memanfaatkanku selama hidupmu tetapi kau tidak mau beribadah kepada yang membuatku. Inilah balasannya” Sang tanah pun menjepit orang itu sampai tulang rusuknya hancur berantakan.

Darimanakah asalnya tanah ? Profesor dari AS, Cina atau Jepang pun tidak akan tahu. Dalam kitab “Sirrul Asror” dijelaskan bahwa tanah termasuk bumi semuanya berasal dari Nur Muhammad itulah Allah menciptakan alam ini. Maka dalam Kasidah diatas disebutkan “tidak akan ada bumi dan kita ini tanpa Dia” Bukan Nabi Muhammad yang menciptakan tetapi Allah menciptakan semua makhluk-Nya bersumber dari cahaya Dia.
Aqidah seperti diatas semakin dikikis di bumi. Boleh menduga bahwa hal ini disengaja agar orang muslim jauh dari Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah, sehingga orang makin tidak lagi memiliki kekuatan rohaniah. Kadangkala kita yang mengaku Ahlus Sunnah Wal Jamaah disamping mempunyai kelebihan, banyak sekali kekurangannya. Seperti contoh orang Iran yang dikatakan Syiah (dengan tidak mengomentari ke-Syiah-annya) mempunyai kemampuan rohaniah yang lebih. Buktinya kalau mereka berziarah ke makam Rasulullah di Madinah atau ke Baqi, kuat untuk berdiri berjam-jam dengan memakai pakaian serba hitam sambil menunggu penuh kekhusuan : “Ya Syayyidi Ya Rosululloh” beribu-ribu jumlah mereka khusu dan mencucurkan air mata.

Lain jemaah haji dari negara Indonesia, mereka datang dan terus tawasul, membaca Al-Ikhlas dan Falaq-binnas terus pulang dan mengobrol kembali.
Bersyukur dengan adanya PP. Suryalaya yang mengembangkan pendidikan Dhouq (rasa), dimana pendidikan rasa ini dirasakan sangat kurang di Indonesia.
Di Indonesia yang berkembang itu rasa cinta kepada harta, tahta dan wanita, apalagi “dicekoki” berbagai film India yang mengajarkan cinta sejati dengan ciri harus mati bersama.
Di Indonesia pendidikan rasa ini sangat keliru, seharusnya pendidikan rasa yang diajarkan adalah rasa cinta kepada Allah, cinta Rasul dan rasa cinta kepada orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Apakah kita mencintai guru ? Cintakah kita kepada Pangersa Abah ? Apakah uang kita lebih banyak diberikan kepada Baitul Maal atau untuk membeli rokok dan baso ?
Belum kesenangan-kesenangan lainnya seperti nonton sepak bola, sampai lupa melaksanakan sholat dan lainnya.
Mari berusaha mendidik rasa cinta kepada Rasul dengan memperbanyak shalwat.

Setiap ada majelis membaca shalawat dalam shalat membaca shalawat, khotaman,manaqib, sebelum dan setelah berdxikir membaca shalawat. Bahkan setiap ada kesempatan terus memperbanyak shalawat, dengan tujuan memohon limpahan rahmat dari Allah atas Nabi Muhammad SAW yang besar jasanya.Apakah belum cukup rahmat Allah kepada Nabi Muhammad SAW ? Sudah cukup, Beliau sudah sempurna. Adapun masih memohon limpahan rahmat Allah atas Beliau tidak lain demi kepentingan kita. Kalau diibaratkan adalah gelas yangsudahpenuh, kenapa harus diisi ? Agar airnya terkucur ke bawah untuk kita semua. Membaca sholawat itu selain memohon untuk Nabi Muhammad SAW, sebenarnya adalah taktik cerdik untuk kita.
Umpamanya ada seorang majikan yang mempunyai 2 orang pembantu bernama Asep dan KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab. Asep seorang pembantu yang rajin, sedangkan KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab pembantu yang malas.

Suatu hari KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab ada keperluan meminjam uang Rp. 300 Ribu. Sudah diperhitungkan kalaubagi Asep jangankan meminjam, mintapun pasti diberi. Sedangkan bagi KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab minjampun tidak akan diberi, apalagi meminta. KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab tidak kehabisan taktik, lalu pergi ke majikannya dengan memakai nama Asep. Belum berkata apa-apa sang majikan sudah memarahi KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab “Mau apa kesini? Minta duit? Tidak akan diberi”. Gertak majikan. Maka KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab berkata : “Tidak, saya meminjam uang untuk Asep” seketika itu langsung sang majikan memberikan uang yang dibutuhkan.
Setelah berhasil mengelabui majikan dengan pebuh tertawa KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab menemui Asep. “Ada apa tertawa cekikikan?” Tanya Asep. “Karena sulit meminjam ke Bos, aku minjam namamu dan berhasil” Jawab KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab.

Begitu juga kita kepada Allah :”Ya Allah ampuni saya, panjangkan usia dan perbanyak rizki saya” Menjawablah Allah : “Enak saja minta, kamu pemalas dan pendusta” Lalu cari kekasaih Allah yang sangat dicintai-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW :”Ya Allah berilah rahmat” Allah pun menjawab : “Untuk siapa? Untukmu ?” “Tidak, untuk kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW” “Oh! Kukira untukmu, nih ambil” sete;ah berhasil menghadap Nabi Muhammad SAW sambil berkata : “Saya diberi rahmat untukmu” Nabi Muhammad SAW menjawab sambil tersenyum : “ambil saja ! yang butuh kamukan”, termasuk berdoa kepada para pewaris Rasul, yaitu para wali Allah, seperti kita berdoa bagi Pangersa Abah sebenarnya bukan untukBeliau justru untuk kita semua.

Selanjutnya jasa Nabi Muhammad SAW adalah menyebarkan agama Islam. Beliaulah yang menyebarkannya sampai kemana-mana, sehingga sampai ke tanah Jawa.

Lalu dilanjutkan oleh para pewarisnya seperti Wali Songo dan para penyebar sebelumnya. Diantara penyebar Islam sebalum Wali Songo adalah Syaikh Qurrotul ‘Ain di Cimalaya Karawang, Sayyid Kiansantang di Garut dan lainnya. Apakah sering mengirim Fatihah kepada mereka ? Rasanya belum dikarenakan tidak disebut nama mereka, padahal Pangersa Abah mendidik kita untuk selalu mengirim Fatihah kepada semuanya tanpa terkecuali dengan kata singkat “Wa Jamiu Ahli Thuruqi” tidak benar kalau ahli Tarekat hanya cinta kepada ahli silsilahnya saja, bahkan seluruh ahli Tarekat dikirim Fatihah.Termasuk Pangersa Abah disamping berziarah rohaniah, juga secara badaniah bersama ikhwan melaksanakan ziarah ke berbagai tempat para wali termasuk Wali Songo. Ini menunjukkan bahwa TQN PP. Suryalaya PP Suryalaya tidak eksklusif.
Sayangnya orang berbondong-bondong ziarah ke Wali yang sudah meninggal dan tidak mau datang kepada Wali yang masih hidup. Mungkin disebabkan pemahaman masyarakat bahwa para Wali harus sudah mati dan hidup di masa lalu. Sehingga kalau ada wali yang masih hidup, mereka tidak percaya dan mereka mengatakan tidak ada Wali yang masih hidup.
Padahal mereka pun tadinya hidup dan kita mengatakan hidup waktu dulu itu sekarang. Maka sekarangpun kalau dikatkaan nanti (misalnya 100 tahun lagi), pasti menjadi dulu. Sebenarnya para wali yang diziarahi itu tadinya hidup. Diwaktu hidupnya mereka berjuang, beribadah kepada Allah dan mengamalkan tharekat lalu oleh Allah diberi karomah sampai diangkat dan setelah wafat dirasakan barokahnya.

Seorang waliyullah adalah seorang yang bertaqwa kepada Allah dengan sempurna, hatinya bersih, dekat dengan Allah, sangat Tawadhu, ahli ibadah, sangat menjaga syariay, menjaga perasaan orang lain,hidup dengan arif dan bijaksana, serta banyak diberi limpahan karomah oleh Allah kepadanya dan orang-orang yangn dekat kepadanya.
Pernahkah merasakan karomah dari Allah ? apakah yang dirasakan itu karomah anda atau Guru ? Sebenarnya karomah itu adalah karomah Guru karena itu setelah beberapa hari usai kunjungan Syaikh Hisyam Kabbani ke PP Suryalaya, muncullah dalam situs mereka diinternet sebuah judul besar “KUNJUNGAN KE WALI AGUNG DI TIMUR JAUH”. Kita malah kagok menyebut Guru sebagai Waliyulloh. Tugas Rasul itu dilanjutkan oleh mereka orang-orang yang mendapat perintah dari Allah. Ada yang diberi sebagian besar ilmu Allah, ada yang hanya diberi ilmu dhohir saja, dan ada yang diberi ilmu bathin saja, dan ada yang diberi ilmu dhohir dan bathin sekaligus seperti Pangersa Abah. Beliau diberi ilmu dhohir sebagai kyai yang pernah mesantren dibeberapa pesantren.

Selain itu Beliau diberi ilmu bathin dan diberi kepercayaan untuk memberikannya kepada orang lain. Adapun orang lain mau menerima ataupun tidak, bagiBeliau tidak menjadi masalah. Ibarat Rasul yang telah menyampaikan perintah Allah kepada umatnya. Bahkan banyak manusia yang mengambil manfaat walaupun tidak mengikuti ajaran serta pendidikan yang diberikannya. Begitulah kebijakan seorang Syaikh Mursyid.

 Oleh : KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab

Satu Tanggapan

  1. Allohu akbar..dulu saya ini gak percaya karomah dan apa itu jenisnya,saya anggap bohong semua..saya lama ikut TQN dan tidak merasakan apa pa, baru setelah 6 tahun kemudian saya terkena musibah sakit kena sihir dan musibah lainnya, alhamdulillah dengan dzikir Abah Anom dengan pasrah banyak ulama menganggap beliau membantu saya..saya baru menyadari ternyata saya masih dibimbing beliau padahal saya termasuk murid yang ga disiplin.terima kasih yaa Alloh atas anugerahmu ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: